Beberapa Orang Asli Papua (OAP) Dibina Dan Dipelihara Khusus Untuk Dipakai Sebagai Obyek Yang Memperkokoh Kepentingan Pendudukkan Dan Kolonialisme Indonesia Di Papua

banner 468x60

MARI, KITA MENDIDIK GENERASI MUDA INDONESIA DENGAN KEBENARAN SEJARAH RAKYAT & BANGSA PAPUA DALAM PERSPEKTIF INJIL

(Bisakah mereka menjadi seperti Musa di istana firaun kuno, Ester, Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego seperti kisah Ester dalam Alkitab?)

Oleh : Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Judul ini menjadi refleksi minggu pada 21 Agustus 2022, karena: “BEBERAPA ORANG ASLI PAPUA (OAP) DIBINA, DIDIDIK, DAN DIPELIHARA KHUSUS UNTUK DIPAKAI SEBAGAI OBYEK YANG MEMPERKOKOH KEPENTINGAN PENDUDUKKAN DAN KOLONIALISME INDONESIA DI PAPUA.”

Ada Orang Asli Papua (OAP) telah dihilangkan martabat kemanusiaan dan sejarah identitas serta harga diri mereka secara sistematis oleh para penguasa kolonial furaun modern Indonesia yang menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa Papua Barat. Orang Asli Papua (OAP) yang dibina, dipelihara dan dipakai sebagai obyek ini hidup tanpa identitas dan jati diri kepapuaan karena semua yang ada padanya dicabut dan dibersihkan dan diisi kembali ruang yang kosong itu dengan ideologi dan nasionalisme PALSU dari bangsa kolonial modern Indonesia.

Saya tidak menyebut siapa nama-nama mereka dalam tulisan ini, karena publik sudah tahu siapa orang-orang yang sudah dilumpuhkan yang hidup dalam kelumpuhan dan kepalsuan identitas itu.

Dalam keadaan seperti ini, saya juga berdoa dan berharap supaya mereka yang dibina, dididik, dipelihara khusus dan dipakai sebagai obyek ini mereka mampu berperan seperti: Musa di Istana firaun kuno, Ester, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Orang-orang Asli Papua (OAP) yang dibina, dididik dan dipelihara khusus untuk digunakan sebagai alat obyek kekuasaan ini hidup dalam kepercahan atau goncangan jiwa yang luar biasa. Hati nurani dan pikiran sehat mereka berkelahi dengan ideologi kolonialisme, imperialisme, kapitalisme, rasisme dan fasisme yang dianut Indonesia. Mereka dipaksa untuk menerima ideologi asing atau ideologi bangsa penjajah. Mereka terpaksa harus menerima kepalsuan ideologi yang dipaksakan.

Sangat disayangkan, kalau mereka yang dibina, dididik dan dipelihara penguasa kolonial modern ini benar-benar dilumpuhkan dan dlenyapkan seluruh keaslian jati diri mereka sebagai OAP dan dijadikan “boneka” atau “topeng” atau “bumper” untuk tampil paling terdepan untuk melawan saudara-saudara dan bangsanya sendiri.

Orang-orang asli Papua yang sudah dilumpuhkan dan dihancurkan jati diri mereka dapat terlihat dalam pernyataan-pernyataan mereka yang “konyol” dan menjadi “boneka” penguasa kolonial Indonesia dalam beberapa media. Saya mengambil contoh komentar dalam Grup Spirit of Papua (SoP).

Ketika anggota grup SoP membagikan karya tulis saya, orang asli Papua yang sudah dilumpuhkan dan dihancurkan identitas ini tanpa kesadaran dan hidup dalam kepalsuan ideologi ini mengomentari:

“Ah….tulisan pak Yoman itu sudah basi, zaman sudah berubah…kita lihat ke depan bukan melihat ke belakang…”

Menurut saya perkataan mereka juga ada benar. Hanya mereka lupa, bahwa dalam hidup ini ada tiga masa yang tidak boleh terputus atau hilang satu zaman ke zaman berikut, yaitu:

“The Past, The Present, and The Future.”

(Masa lalu, Masa Kini atau Sekarang dan Masa Depan).

Tiga masa ini tidak boleh terputus satu dengan lain. Kalau salah satunya hilang, berarti hidup suatu bangsa dalam kegelapan, bahaya dan kehancuran. Karena Masa Kini atau Sekarang (The Present) tidak belajar dan mengetahui peristiwa-peristiwa masa lalu (The Past History). Kalau kita tidak belajar dan mengetahui sejarah masa lalu, maka sekarang kita tidak berkaca dari dua sisi, yaitu warisan positif yang harus dirawat, dipelihara dan digunakan sebagai pilar, kekuatan dan kekayaan bangsa, dan kita tahu AKAR kita. Sebalikubya, sejarah masa lalu yang negatif yang merugikan kita tinggalkan dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama supaya kita tidak tetap tinggal dalam “kubangan babi” yang sama. Itu memang sangat berbahaya. Karena itu, bangsa kolonial modern Indonesia membakar buku-buku sejarah Papua sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang.

Dari pengalaman masa lalu (The Past), kehidupan sekarang (The Present) kita dapat melihat dan menentukan masa depan (The Future) untuk menciptakan dunia yang menghormati martabat kemanusiaan, kesamaan derajat sebagai sesama manusia, keadilan, kebebasan, kedamaian permanen di bumi hidup dengan harmonis untuk semua umat manusia tanpa perbedaan

Sangat disayangkan, banyak generasi muda Orang Asli Papua (OAP), yaitu ayah dan Ibu murni Orang Asli Papua atau ayah dan ibu campuran telah dan sedang dan terus menjadi korban dari bangsa kolonial modern firaun modern Indonesia yang memelihara dan melaksanakan praktek-praktek kolonialisme dan imperialisme. Penguasa kolonial modern Indonesia lebih berhasil dan berprestasi dalam politik mengadu-domba (de vide et impera).

Dalam kerangka berfikir penguasa kolonial firaun modern Indonesia yang kaku dan miskin inovasi dan juga miskin kreativitas seperti ini, kita Orang Asli Papua (OAP) yang masih mempunyai identitas, ideologi dan nasionalisme Papua yang murni ini, mari, kita sadar, bangkit, bersatu untuk mendidik generasi muda Indonesia dengan kebenaran-kebenaran sejarah rakyat dan bangsa Papua Barat dengan cara-cara atau pendekatan iman, intelektual, manusiawi, beradab, terhormat dan bermartabat. Dan juga, penulisan-penulisan obyektif, rasional dan fakta-fakta sejarah yang digelapkan Indonesia sejak 19 Desember 1961 selama 61 tahun sampai sejarang.

Dalam panggilan suci demi nasib rakyat dan bangsa Papua Barat, saya telah membaktikan sebanyak 29 buku sejak tahun 1999. Buku pertama saya berjudul: Rakyat Papua Bukan Separatis (1999) dan buku terbaru berjudul: Pemekaran dan Kolonialisme Modern di Papua (2022) dicetak 10.000 ex.

Saya sudah selesai buku ke-30 dengan judul: “Kuasa Kata-Kata Mengubah Dunia”, saya belum kirim ke editor karena saya sedang fokus pembiayaan, pengangkutan atau pengiriman buku terbaru.

Maaf, saya bukan satu-satunya. Saya, HANYA salah satu dari puluhan, ratusan, ribuan dan jutaan Orang Asli Papua dan saudara-saudara Non Papua yang berdiri bersama-sama rakyat dan bangsa Papua Barat yang sedang berjuang sejak dulu, 1960-an untuk Kemerdekaan dan kedaulatan penuh sebagai sebuah bangsa yang terpisah dari bangsa kolonial modern Indonesia.

Kesimpulan singkat:

Biarakanlah penguasa kolonial firaun modern Indonesia sibuk dengan usaha-usaha “konyol” dan “bodoh” dengan cara-cara “usang” yang membina, mendidik, dan memelihara untuk dipakai sebagai obyek untuk berhadap-hadapan dengan Orang Asli Papua (OAP) sendiri (head to head figthing). Sangat disayangkan, OAP yang dibina dan dipelihara ini hidup tanpa AKAR budaya mereka dan hidup dalam budaya, ideologi, sejarah dan pikiran PALSU. Mereka tidak hidup di atas kaki mereka, hidup di atas kaki orang lain, atau hidup dibawah “ketiak” para kolonial. Kemerdekaan dan martabat kemanusiaan mereka sudah ditaklukkan. Mereka hidup kosong, kemapanan semu, zona nyaman hampa, dan mereka akan layu dan kering sendiri karena hidup tanpa AKAR yang sesungguhnya dan bukan di Tanah yang subur, tapi di pinggir jalan, disemak duri dan di atas batu-batu.

Kesadaran mereka dilumpuhkan secara serius supaya mereka jangan sadar, bangkit dan melawan. Kalau mereka sadar, itu bahaya bagi bangsa kolonial. Pelumpuhan kesadaran dan penghancuran persatuan bangsa yang diduduki dan dijajah adalah prioritas bangsa kolonial. Selain itu, sejarah, kebudayaan, pendidikan, kesehatan dan menghilangkan asal usul leluhur atau nenek-moyang itu adalah kebijakan kunci dan prioritas bagi bangsa kolonial firaun modern Indonesia.

Mari, kita berdiri dalam kerangka hidup kita sendiri dan mendidik dan mengajar saudara-saudara kita generasi muda Indonesia dengan kebenaran sejarah rakyat dan bangsa Papua Barat. KEBENARAN berjalan pelan tapi PASTI keluar sebagai PEMENANG SEJATI.
Seperti kata Firman Hidup:

” …kamu mengetahui akan kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32).

Mari, kita menjadi seperti ,”Terang Dunia” dan “Garam Dunia” untuk menyatakan kebenaran sejarah rakyat dan bangsa Papua Barat dalan terang Injil.

Selamat membaca. Doa dan harapan saya, refleksi ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Ita Wakhu Purom, Minggu, 21 Agustus 2022

Penulis:

Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
Anggota: Konferensi Gereja-Gereja⁰ Pasifik (PCC).
Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

-------------------------------------- ----