Kami Bukan Bangsa Bodoh, Penjilat Dan Bukan Bangsa Budak Indonesia

banner 468x60


JALAPAPUA. New, Bangsa kolonial modern firaun Indonesia menanam dan memelihara bibit perpecahan dan kehancuran orang asli Papua sejak 19 Desember 1961, 1 Mei 1963 secara ilegal di atas TANAH leluhur kami. Itu memang watak dan ciri khas bangsa kolonial dari waktu ke waktu dan dari abad ke abad. Indonesia sedang memelihara dan melaksanakan pendudukan dan penjajahan terhadap bangsa Papua.

Mereka (penguasa kolonial modern firaun Indonesia) berfikir dan beranggapan, bahwa kami bodoh, tidak berfikir kritis, analisis, penalaran sehat yang komprehensif. Mereka (Indonesia) berfikir, kami dengan mudah dibuat tunduk dan ketaatan palsu diketiak mereka dan menjilat sembunyi-sembunyi demi kedudukan dan kekuasaan dalam pemerintahan kolonial ini. Mereka (Indonesia) berfikir Kebijakan Revolusi Kebudayaan (Cultural Revolution Policy) secara sistematis, terstruktur, meluas, masif, kolektif dan integratif telah menghancurkan  kehidupan orang asli Papua, seperti bangsa China sedang menghancurkan rakyat dan bangsaTibet. (Baca buku: TEARS OF BLOOD: A CRY FOR TIBET” (Mary Craig, 1999).

Mari, orang asli Papua, kita belajar  MENGHORMATI DAN BELAJAR PERBEDAAN DALAM MEMBANGUN MASA DEPAN PAPUA YANG DEMOKRATIS, ADIL, JUJUR UNTUK MANDIRI DAN KUAT DI ATAS TANAH LELUHUR KAMI.

“Kepolosan, kejujuran, keterbukaan dan  keluguan serta ketulusan dalam menyampaikan pikiran dan isi hati  adalah nilai-nilai  luhur yang hidup dalam perabadan orang-orang asli Papua sejak turun-temurun dari waktu ke waktu sampai saat ini. Nilai-nilai luhur ini semakin terkikis  dalam sistem bangsa kolonial modern Indonesia melalui Kebijakan  Revolusi Budaya (Cultural Revolution Policy)  di Tanah Papua telah berlangsung selama 61 tahun sejak 19 Desember 1961 hingga sekarang.”

Semua orang di Papua dan terutama sebagian besar atau mayoritas orang asli Papua yang menolak kebijakan sepihak Negara, yaitu Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua dikejutkan atau dikagetkan dengan pernyataan tanpa embel-embel atau poles  dari  bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom, SE, MSi pada Kamis, 19 Mei 2022 di Wamena.

Saya menyoroti beberapa hal secara kritis. Karena kita tidak dididik dengan baik untuk berfikir kritis, analisis dan komprehensif.  Sebagian besar dari kita sudah dilumpuhkan dengan sistem negara Indonesia yang rasis, fasis, militeristik, supaya kita tunduk-tunduk, asal bapak senang (ABS), dan tidak boleh berbicara berbeda dan tidak boleh melebihi  mereka (bangsa Indonesia) yang berjiwa dan beewatak rasis dan fasis ini.  Kebanyakan orang asli Papua dengan gampang dan mudah dipakai dan diperalatkan demi kepentingan memperpanjang (prolong) penguasa kolonial modern firaun Indonesia yang fasis ini menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa Papua.

Kita tidak atau belum banyak sadar bahwa kita diduduki, dijajah dan ditindas serta dimusnahkan oleh bangsa kolonial modern firaun Indonesia sejak 19 Desember 1961 dan 1 Mei 1963 sampai saat ini secara sistematis, terstruktur, meluas, masif, kolektif dan integratif.

Pada saat kita ramai-ramai menanggapi dengan menyerang statement-statement (pernyataan-pernyataan) Befa Yigibalom, SE, MSi dengan masif tanpa proporsional, profesional dan kritis, maka penguasa kolonial modern firaun Indonesia tertawa, bertepuk dada, bangga, karena mereka (Indonesia) merasa dan berfikir sudah berhasil perpecahan antar orang-orang asli Papua. 

Tetapi,  mereka lupa dan tidak sadar, bahwa, kami masih ada, hidup dan bernafas dan tetap hidup di atas TANAH leluhur kami. Kami pemilik, ahli waris dan selalu jaga TANAH sebagai Ibu atau Mama kami, dan hidup kami. Kami juga saling menjaga, saling melindungi antar sesama kami orang asli Papua dan juga saudara-saudara dari Indonesia yang datang hidup, tinggal, berkarya dan membangun bersama kami di TANAH ini.

Kami tidak suka dan TETAP dan SELAMANYA  melawan rasisme, fasisme, militerisme, kolonialisme,kapitalisme, ketidakadilan, adu-domba, pelanggaran berat HAM, genosida, ekosida, marginalisasi, dan dikotomi antar gunung dan pantai yang merendahkan, melecehkan dan menghina martabat kemanusiaan kami. Ingat! Kami Satu Papua untuk selamanya. Tidak ada orang yang memecah-belah kami dan roh kami.

Kami hidup dan berdiri bersama TUHAN kami, roh-roh leluhur kami, darah, air mata, penderitaan dan tulang-belulang bangsa kami yang sudah dibantai atas nama keamanan dan kepentingan sumber daya alam yang bertopengkan NKRI harga mati, almarhum atau wafat.

Maka, untuk menyampaikan kepada penguasa kolonial modern firaun Indonesia yang fasis dan rasis serta militeristik ini dan juga untuk pembelajaran bagi orang-orang asli Papua, saya melihat pernyataan Befa Yigibalom dari dua lensa, yaitu: lensa positif dan juga lensa kekurangan (negatif).

• Lensa positif

Befa Yigibalom menunjukkan bahwa dia mampu memberikan makan ribuan orang. Orang-orang yang datang menikmati berkat makanan (gading babi) yang diberi makan secara gratis. Befa Yigibalom mengukir sejarah dan sejarah itu tercatat dalam lembaran sejarah rakyat dan bangsa Papua ribuan tahun ke depan.

• Befa Yigibalom tidak munafik, tidak berpura-pura, tidak tunduk-tunduk, tidak sembunyi-sembunyi, tidak bicara dibelakang-belakang. Dalam diri Befa Yigibalom ada nilai keluhuran, kepolosan, kejujuran, keterbukaan dan  keluguan serta ketulusan.

Contoh: Befa Yigibalom mengatakan: Yang berjuang Papua Merdeka, silahkan berjuang dan bawa kemerdekaan itu. Dan sebaliknya, saya dan keluarga terima dan mendukung Daerah Otonomi Baru (DOB) sebagai kesempatan untuk membangun rakyat Papua.

Befa Yigibalom mengatakan: Berjuang Papua Merdeka dan DOB bertujuan membangun rakyat Papua dalam berbagai bidang. Dia tidak

melarang perjuangan Papua Barat Merdeka. Dia katakan “silahkan.”

Jadi, seperti seorang guru mengajarkan murid-murid atau siswanya tentang ilmu matematika: 

5+5=10.

8+2=10.

7+2=10. (seharusnya 7+3=10)

6+4=10

9+1=10

Semua murid serentak tertawa dan 100%  suara mempersalahkan guru mereka dengan mengatakan 7+2 bukan 10 tapi 9. Yang benar ialah 7+3=10.

Kita selalu melihat satu titik kecil yang kurang atau salah, tanpa kita melihat kebaikan yang cukup banyak yang sudah dibuat oleh orang-orang yang kita menilai dari sudut pandang kita. Mari, kita lihat dari sudut pandang TUHAN dan juga dengan cara profesional dan proporsional.

Menurut saya, Befa Yigibalom menyatakan banyak hal dengan jujur, polos, tulus, benar, terbuka. Tapi, kita sendiri tidak atau belum belajar kritis dan berani mengatakan ide-ide yang berbeda.

Apapun alasan dan tujuannya, Befa Yigibalom dapat memberikan makan ribuan orang. Befa Yigibalom mempunyai kisah yang akan hidup dalam catatan sejarah di atas Tanah milik orang-orang berkulit hitam dan berambut keriting.

Kisah bakar batu terbesar dalam sejarah orang asli Papua  pernah dirukir oleh Lukas Enembe dan Klemen Tinal mengukir sejarah bakar batu terbesar di atas Tanah TABI, Tanah Melanesia, Tanah Papua pada 2013. Lukmen memberikan makan ribuan orang pada waktu itu.

Lukas Enembe dan Klemen Tinal Ap Nagawan, Ap Gain, Ap Nggok, Ap Inogobamini.

Jadi, Befa Yigibalom juga Ap Nagawan, Ap Gain, Ap Nggok, Ap Wakangget.

HANYA dalam komunikasi tidak seleksi  kata-kata. Tidak kontrol baik, sehingga berbagai respon dan tanggapan disampaikan atas pernyataan pada Kamis, 19 Mei 2022. Ini wajar karena Befa Yigibalom tidak menggunakan standar etika dan kaidah-kaidah komunikasi. Walaupun demikian, spontanitas dari hati yang tulus, lurus, dan luhur itu juga sering membuat para pendengar merasa terganggu dan juga terluka.

• Lensa Negatif

Pertama, Befa Yigibalom tidak gunakan standar etika komunikasi yang baik. Tidak pantas menyebut nama para pemimpin rakyat di Papua dalam forum terbuka. Tidak mencerminkan kesopanan terhadap pemimpin.

Kedua, saya juga tidak terima atau tidak setuju menyebut nama para pemimpin rakyat Papua yang sudah dan sedang menjadi pagar dan pelindung  rakyat Papua. Wajar kalau rakyat memberikan tanggapan bervariatif. Setiap orang berhak berpendapat karena publik berhak menilai.

Ketiga, Befa Yigibalom katakan Wam (Babi) itu dikasih oleh Negara. Ini perlu diluruskan bahwa babi itu milik rakyat, dipelihara rakyat dan dibeli dengan uang. Karena di Papua ini, Negara atau pemerintah tidak pernah membangun kandang babi dan memelihara babi.

Keempat, Befa Yigibalom tutup mata dan abaikan atau seperti tidak peduli dan tidak melihat mayoritas, hampir 82% orang asli Papua menolak DOB.

Setelah menonton vidio pernyataan pak Befa Yigibalom yang beredar secara liar di media sosial, tadi, saya telepon langsung kepada pak Befa Yigibalom dan sampaikan: “Pak acara sudah baik dan memberikan makan ribuan orang. Saya tidak setuju menyembut nama-nama pemimpin dan itu terkesan tidak etis dan juga tidak respek kepada mereka. Perbedaan perbedaan pendapat itu penting dan perlu karena kita manusia unik dan kita sudah berpendidikan baik.”

Saya sendiri sejak dulu menolak Pemekaran kabupaten dan provinsi di Papua. Karena, DOB itu agenda BIN, Militer untuk membangun basis-basis militer di Papua untuk merampok sumber daya alam di Papua dan menyingkirkan dan memusnahkan  Penduduk Asli Papua.

Yang jelas dan pati: Daerah Otonomi Baru (DOB) yang miskin persyaratan itu  yang dipaksakan BIN dan militer itu bukan pemerakan provinsi, tapi Pendudukkan, Penjajahan dan Kolonialisme modern.

Akhir dari tulisan ini, saya mengutip:

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 26:27).

Stephen R. Covey dalam buku: Seven Habits: 7 Kebiasaan Manusia Yang Efektif mengatakan:

“Ketika kita membuka mulut dan menyatakan sesuatu, sebenarnya kita sedang menterjemahkan siapa sesungguhnya diri kita.”

” Mulut orang benar adalah sumber kehidupan. Lidah orang benar seperti perak pilihan. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang” (Amsal 10:11; 20, 21).

Doa dan harapan saya supaya tulisan ini menjadi berkat.

Ita Wakhu Purom, Senin, 23 Mei 2022

Penulis:

• Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

• Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).

• Anggota: Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC).

• Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

-------------------------------------- ----